Laman

Selasa, 17 Juli 2012

Memandang konflik sosial dari ketersediaan Ruang Terbuka


                 Melihat dan mengikuti kondisi akhir-akhir ini yang terjadi di Kota Pekanbaru sungguh sangat merisaukan. Belum lagi masalah banjir yang tidak kunjung teratasi hingga saat ini. Sehingga saat memasuki musim penghujan tiba, banjir seakan merupakan santapan wajib bagi masyarakat Kota Pekanbaru yang tidak bisa terlewatkan. Selain itu, problem macet yang sangat menjenuhkan tanpa disadari memberikan efek stress bagi para pengguna kendaraan, yang dominan merupakan masyarakat kota Pekanbaru.
Dan yang tak kalah heboh-nya baru-baru ini adalah masalah perusakan Kantor Mapolresta Kota Pekanbaru dan fasilitas umum lainnya,  yang dilakukan oleh para geng motor Kota Pekanbaru. Diketahui para pelakunya merupakan pelajar yang masih duduk dibangku sekolah. 
          Apa yang  dilakukan mereka sungguh kontras dan bertolak belakang dengan apa yang seharusnya dilakukan pelajar di usia seperti mereka. Generasi muda yang merupakan harapan untuk generasi penerus bangsa seakan jauh dari apa yang tergambarkan hari ini.
Dari uraian diatas, semua merupakan bagian dari fenomena masalah perkotaan. Tidak hanya di Kota Pekanbaru saja, Kota-kota besar yang ada di Indonesia seakan tidak lepas dari fenomena tersebut. seperti Kota Jakarta yang merupakan Ibu Kota-nya Indonesia tidak luput dari permasalahan tersebut.
         Perkembangan Kota Pekanbaru dewasa ini menunjukan perkembangan yang cukup pesat. Ditandai dengan pesat-nya pembangunan gedung-gedung bertingkat, beralih fungsi-nya penggunaan lahan berganti dengan bangunan komersil  yang mengarah kepada konsep kota modern. Namun mengabaikan aspek kenyamanan masyarakat penghuni kota-nya itu sendiri terkesan kurang memanusiakan manusia.
Ketersedian Ruang terbuka atau ruang publik di Kota Pekanbaru tampak masih belum memenuhi harapan. Perhatikan saja, dimana masyarakat kota Pekanbaru bisa memanfaatkan Ruang-Ruang Publik yang berfungsi sebagai wadah untuk menjalin interaksi sosial sesama masyarakat Kota Pekanbaru? Padahal Kota identik dengan tinggi-nya tingkat individualisme, tempat-nya orang-orang stress yang selalu disibukan oleh pekerjaan dan rutinitas lainnya. Hanya setiap akhir pekan saja masyarakat Kota bisa berlibur dan menghilangkan stress. Itu pun hanya memilih untuk berdiam diri menghabiskan waktu bersama keluarga. Lantas bagaimana interaksi sosial antara masyarakat itu sendiri bisa terjalin?  Jika selama ini kita tahu dan sering memanfaatkan Taman Kota, Hutan Kota, kawasan Purna MTQ sebagai wadah untuk berlibur,berekreasi, berolah raga. Perlahan-lahan mulai beralih fungsi dan lambat laun menghilang dan kehilangan fungsi utamnya. Selain itu, tidak cukup hanya dengan menjadikan jalan Gajah Mada dan Jalan Diponogoro sebagai tempat car Freeday (Hari bebas kendaraan). biasa-nya solusi seperti ini merupakan solusi alternatif yang dibuat oleh pemerintah dan instansi terkait ditengah tinggi-nya kebutuhan akan Ruang Publik yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana interaksi sosial masyarakat Kota.
                Memandang masalah Pengerusakan yang dilakukan oleh para pelajar merupakan sebuah pertanda mulai terjadi-nya gejala sosial didalam masyarakat Kota Pekanbaru. Dimulai dari semakin minim-nya ketersedian Ruang-ruang publik untuk mereka para pelajar yang ingin menyalurkan hobi dan kreatifitas seakan tidak bisa tersalurkan dengan baik. Wajar ajang perkumpulan yang mengarah kepada hal-hal negatif sangat mudah terjadi. Sehingga diperlukannya arahan dan konsep perencanaan,pembangunan Kota Pekanbaru kepada konsep yang mengarah kepada Perencanaan Humanopolis, yaitu Kota yang lembut dan manusiawi, kota yang memanusiakan manusia serta penghuni-nya dengan memberikan Ruang untuk masyarakat dalam berinteraksi dan menjalin hubungan sosial sesama masyarakat . Dengan penciptaan ruang perkotaan yang bersifat publik seperti menyediakan jaringan Pedestrian bagi pejalan kaki, selain itu perlu dimanusiawikannya bangunan-bangunan megah,canggih yang ada di Kota kita dengan  menyediakan perlatan terbuka atau pedestrial mall yang dilengkapi dengan berbagai perabot seperti bangku,patung,jam,lampu hias,air mancur. Selain itu ruang-ruang pribadi seperti bangunan gedung sebaiknya saling dihubungkan satu sama lain-nya. agar terjalin sebuah kesatuan yang terharmonisasi dengan ruang perkotaan yang bersifat sosial. Dengan adannya ruang publik sebagai ruang sosial inilah yang nantinya akan menjadi perekat bagi tumbuhnya rasa kebersamaan dan kekentalan komunitas didalam perkotaan. Sehingga konflik sosial seperti yang belakangan terjadi bisa diantisipasi.

“Sudah Waktunya Riau Menjadi Pusat Perhatian ”

  Cukup bangga dan sedikit bisa tersenyum. Itulah kondisi yang dirasakan oleh masyarakat Riau saat ini. Ditengah carut marut kondisi Riau yang belakangan terkenal dan menjadi sorotan negatif oleh pusat seperti kasus korupsinya, kabut asapnya. tampaknya akan sedikit luntur dan perlahan-lahan akan sedikit terobati berkat menjadi tuan rumah ivent nasional dan internasionalnya.
Sudah sekian lama Riau tak kunjung pernah menjadi pusat perhatian yang serius dikancah pusat, nasional dan internasional baik dalam peran dan kontribusinya diberbagai aspek dan bidang. Padahal bukan rahasia umum lagi, jika hampir sebagian besar sumber pendapatan negara ini berasal dari kekayaan alam Riau. Hingga terkadang Riau terkenal kaya namun tampak tak memiliki perhiasan apa-apa sedikit pun yang terpasang ditubuhnya.
Sumber-sumber pemberitaan nasional baik media cetak, elektronik cenderung terkadang hanya menyorotkan kameranya di Kota-kota dan propinsi-propinsi yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita seperti Jakarta, Jawa, Sumsel, Maluku, Sumbar. Hingga terkadang menimbulkan kesan seakan terjadinya disparitas dalam berbagai hal seperti pemberitaan potensi daerah melalui seni dan kebudayaa maupun sajian kulinernya. Meskipun harus diakui untuk saat ini, Riau sendiri masih mencari jati diri dalam memberikan peng-identitasan diri melalui landmark,icon-icon kota, makanan khasnya yang diharapkan akan memberikan kesan dan ingatan tersendiri  bagi setiap orang yang datang dan berkunjung ke Bumi Riau.
Dizaman yang serba modern dan canggih harus diakui peran media juga turut andil memberikan informasi ke khlayak luar. Meskipun dalam hal promosi atau pengenalan kota dan propinsi turut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti Potensi daerah itu sendiri, jarak tempuh menuju kota tersebut, kepentingan pusat terhadap daerah, infrastruktur yang baik juga turut mempengaruhi keinginan orang untuk berkunjung ke suatu daerah. Tentunya semua hal tersebut jika dikaitkan dalam kajian ilmu perencanaan wilayah dan kota sangat erat kaitannya terhadap jangkauan pelayanan yang diberikan pusat terhadap propinsi disekitarnya. semakin dekat suatu Kecamatan, Kabupaten terhadap Ibu Kotanya, tentunya segala bentuk ketersediaan pelayanan kota seperti sarana dan prasarana turut dirasakan terhadap Kecamatan, Kabupaten tersebut. Begitu juga dengan Propinsi, jika propinsi tersebut memiliki jarak yang terhitung dekat dan mudah dijangkau dengan Ibu Kota negaranya tentunya semakin banyak juga pengaruh yang bisa dirasakan.
Sehingga wajar saja, untuk daerah-daerah yang jauh dari pusat kota baik itu ibukota Kecamatan, Kabupaten, Propinsi, Negara dirasa sukar medapatkan pelayanan sarana dan prasarana yang baik terlebih tidak adanya kepetingan pusat terhadap daerah tersebut.
Sehingga menimbulkan buruknya kualitas pelayanan bagi masyarakat berupa sarana dan prasarana baik ditingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten, Kota, Propinsi.
Secara tidak langsung menimbulkan kecemburuan sosial dan terkesan turut luput dari perhatian pemerintah pusat. Seperti saudara kita yang ada di Papua, yang sampai saat ini bersikeras menuntut ingin memerdekan diri melalui gerakan organisasi Papua merdekanya.
Alasanya bermacam-macam seperti kurang ter-perhatikannya oleh pemerintah pusat, kasus kekerasan, minimnya ketersediaan sarana dan prasarana seperti fasilitas pendidikan, kesehatan yang masih belum secara menyeluruh dirasakan oleh saudara-saudara kita sehingga berimplikasi kepada rendahnya kualitas kesehatan, sumber daya manusia (SDM) .  
Tentunya jika ditelusuri muara dari semua hal tersebut adalah faktor jarak dan lokasi yang sangat berperan penting dalam memberikan pengaruh pelayanan. Karena sifat kota yang cenderung memiliki berbagai kelengkapan sarana dan prasarana, pusatnya aktivitas kegiatan turut mendukung dalam memberikan kemudahan dalam kehidupan manusia.
Melihat strategi lain yang bisa diterapkan untuk daerah-daerah yang jauh dari jangkauan pelayanan pusat yaitu berupa pembangunan fasilitas-fasilitas yang sifatnya menyangkut dan membawa kepentingan pusat dan nasional didalamnya, seperti yang dilakukan pemerintah Propinsi Riau diharapkan akan menciptakan daya tarik berupa mangnet tersendiri bagi daerah-daerah lain untuk datang dan berkunjung ke daerah tersebut dengan menghadirkan fasilititas yang awalnya akan digunakan untuk perhelatan akbar PON berupa main stadium sepakbola bertarap internasional.
Menurut hemat penulis Secara tidak langsung banyak multiplaier efek yang bisa dirasakan oleh pemerintah Riau selaku tuan rumah event-event sekelas nasional dan internasional. Nama Pekanbaru, Riau tentunya kedepan akan semakin terkenal di Kancah Nasional dan Internasional yang secara tidak langsung kegiatan ini memberikan sajian pemberitaan informasi keluar secara gratis melalui media-media informasi nasional yang berbondong-bondong berburu berita dan informasi ke bumi melayu tercinta.
Selain itu, imbas positif dari kegiatan tersebut akan turut dirasakan pula oleh semua lapisan dan elemen masyarakat Riau. Roda perputaran dan pertukaran uang akan semakin jelas terasa mana kala banyaknya aktivitas yang ikut kecipratan untuk mengais rezeki dan membuka peluang usaha, seperti pedagang suvenir dadakan, penjual makanan khas daerah, warung-warung makan, hotel-hotel penginapan seakan semuanya turut merasakan imbas positifnya.
              Seperti halnya yang dilakukan oleh propinsi tentangga kita yaitu Sumetera Selatan yang turut sukses menjadi tuan rumah event Seagames  yang nota benenya merupakan event sekelas internasional. faktor lokasi dan jarak seakan tidak menjadi halangan bagi Propinsi mereka dalam merebut perhatian dan kepentingan pusat.
Dengan demikian, harapan kita kedepan untuk Riau menjadi pusat perhatian melalui kepentingan pusat yang ditanamkan di Bumi Melayu tampaknya akan semakin mudah tercapai.

Kamis, 28 Juni 2012

"Meneropong Efek Fly Over"


   fly over diperkirakan agustus mendatang bakalan rampung. Ini merupakan kabar baik untuk kita semua masyarakat pengguna jalan di Kota Pekanbaru, dan tampaknya pembangunannya bakalan berjalan sesuai dengan harapan semua pihak. 
saat ini, kondisi terakhir hanya membutuhkan proses finishing saja. Seperti upaya perkerasan disetiap titik meliputi pengaspalan badan fly over, pengecoran dinding fly over, pembuatan motif melayu pada dinding atas fly over beserta pernak-pernik pendukung lainnya seperti lampu penerangan dan marka jalan.

            Disatu sisi, ini merupakan gebrakan positif  yang dilakukan pemerintah untuk memecah problem konsentrasi kemacetan lalu lintas di persimpangan jalan yang ada di Kota Pekanbaru secara cepat. 
Disisi lain apakah ini akan benar-benar efektif mengurangi tingkat kemacetan di Kota Bertuah untuk jangka panjang kedepannya?
Atau kah ini hanya bersifat sementara saja, dan bakalan kambuh lagi, kumat lagi? Seperti penderita sakit kepala yang akan mereda sakitnya secara seketika. ketika si penderita menenggak obat pereda sakit kepala dan kambuh lagi dalam kurun waktu yang tidak terduga.
Melihat cara kerja obat sakit kepala pada umumnya, yang terkesan instan nan cepat yang langsung menghujam titik pusat syaraf  sakit kepala si penderita tanpa pernah memikirkan dampak jangka panjangnya  bagi si pengguna. Ini lah gambaran kondisi pola penanganan kemacetan lalu lintas di Kota kita.

            Mengingat permasalahan kemacetan lalu lintas merupakan permasalahan yang kompleks dan membutuhkan penanganan yang serius pula, Bukan hanya untuk mengatasi kemacetan lalu lintas satu sampai lima tahun saja,  namun alangkah baiknya dapat mengakomodir masalah kemacetan untuk jangka waktu  menengah dan jangka panjang  kedepannya pula.
Keberadaan transmetro Kota Pekanbaru yang sebelumnya digadang-gadang akan mampu mengurangi tingkat kemacetan, dengan harapan para pengguna jalan dapat beralih ke moda transportasi umum. Namun pada kenyataanya  sampai saat ini urung kunjung memberikan kontribusi yang berarti untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Justru hanya menambah beban ruang berlalu lintas.

Pada dasarnya, permasalahan kemacetan ditimbulkan karena ketidakmampuan jalan dalam mengakomodir atau memberikan ruang gerak bagi kendaraan yang ada diatasnya untuk melaju diatas badan jalan, seperti mobil,bus,sepeda motor dan lain sebagainya. Sehingga menimbulkan kesesakan dan kepadatan di badan jalan.
Ketidak seimbangan pertumbuhan antara kendaraan dengan kebutuhan ruang berupa jalan bagi pengguna yang terus meningkat dari waktu kewaktu merupakan faktor utama penyebabnya.
            Kini mari kita lihat bagaimana kedepannya warga Kota Pekanbaru yang sebentar lagi akan menggunakan Fly Over. Berupa Jalan layang yang melayang-layang diatas awang Menjadikan pengguna jalan bak terasa terbang diatas awang.

Namun terlepas dari hal diatas, yang menjadi permasalahan saat ini oleh kacamata penulis yaitu, efek turunan yang ditimbulkan oleh keberadaan fly over untuk jangka panjang. Terutama bagi kawasan di sekitar area fly over itu sendiri.
Tanpa disadari oleh kita, Semenjak awal direncanakan meliputi proses pemacangan tiang yang melibatkan alat-alat berat sudah tercium aroma efeknya. Seperti kemacetan, pengalihan jalur pengguna jalan, pelebaran jalan yang memakan garis sempadan bangunan tanpa memperhatikan kaidah jarak bangunan dan jalan yang baik dan benar. Sehingga menimbulkan rasa ketidak nyamanan bagi pengguna jalan, pemilik lahan disekitarnya.
Selain itu, menurut penulis dampak lainnya yang cukup urgent alias penting yaitu, menyebabkan terganggunya rasa kenyamanan dari segi akses konsumen yang akan berkunjung pada suatu tempat dan turut terganggu pula dari segi naluri penciptaan rasa kenyamanan konsumen dalam menikmati keberlamaan ditempat tersebut yang secara harafiah juga turut dipengaruhi oleh kondisi dan suasana disekitarnya.
Terutama untuk jenis aktivitas yang membutuhkan ketenangan dan kenyamanan ekstra tinggi jauh dari kebisingan seperti bangunan Akbid Internasional yang merupakan kawasan pendidikan, Rumah Sakit Savira dan Rumah Sakit Awal Bros yang merupakan tempatnya orang-orang yang mengharapkan kesembuhan bukan justru mengharapakan hal sebaliknya yaitu tambah sakit.  
Dapat dibayangkan oleh kita semua kala suara deru mesin kendaraan, suara klakson kendaraan yang lalu lalang diatas. kondisinya seakan tergambar jelas dua kali lipat dari yang biasanya akan dirasakan oleh penghuni bangunan disekitar  fly over.
Imbas lanjutannya yaitu, terjadinya penurunan omset bagi pemilik usaha yang ada di sekitar area fly over tersebut,  seakan turut termatikan oleh adanya aktivitas baru yang terkesan mengganggu secara visual dan emosional.

Jika hal tersebut terus berlangsung dapat diperkirakan akan terjadinya penurunan bahkan jatuhnya potensi dan nilai jual lahan. Mengingat pada awalnya, lahan yang berada disepanjang jalan sudirman memiliki potensi yang cukup baik khususnya jika digunakan untuk aktivitas perdagangan dan jasa seperti pertokoan, hotel dan lain-lain.
lokasi yang strategis dekat dengan pusat kota menjadikan nilai lahan terhitung cukup fantastis, karena dinilai memiliki nilai lebih, namun jika kondisinya demikian siapa sangka suatu saat akan berujung tangis.
Tentunya hal ini cukup merisaukan, melihat latar belakang Perencanaan Tata Ruang Kota Pekanbaru yang tidak pernah diharapkan akan berkembang pesat seperti saat ini dengan jumlah penduduk Kota Pekanbaru melebihi 1 juta jiwa dan berhak mengantongi gelar sebagai Kota Metropolis atau Kota Raya.
Kondisi itu kian terasa, mana kala jika dulu Bandara SSQ II berada dipinggiran kota kini tanpa disadari akibat pesatnya perkembangan fisik kota menjadi berada didalam kota.
Disinilah peran penting sebuah ilmu perencanaan yang menjadi juru kunci pengatur arah perkembangan ruang-ruang kota secara baik dan benar sehingga dapat mengakomodir kebutuhan ruang dimasa akan datang.
Lantas siapa sangka juga, jika hari ini Kota Pekanbaru sudah dikategorikan kota metropolis dengan indikatornya adalah jumlah penduduk yang mencapai 1 juta jiwa tadi?? dengan demikian bisa dibayangkan 10-20 tahun mendatang kota kita akan berganti label lagi dan berhak menyandang gelar kota megapolis. Kemungkinan Kota Pekanbaru menjadi Kota megapolis itu pasti ada.
Mengingat sejatinya sifat kota yang cenderung mengalami pertumbuhan dan membengkak semakin besar,luas dan perkasa sudah diprediksi oleh Doxiadle yang merupakan ilmuan perencanaan wilayah dan kota.
Jika kondisinya sudah demikian, bagaimana nasib kota Pekanbaru yang kita cintai kedepannya?? Potret kondisi hari ini ada Fly over, lantas bagaimana lagi dengan kondisi 5,10,20 tahun mendatang?? Apakah harus fly over juga yang menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan berlalu lintas? Tentunya pembaca yang budiman juga bisa membayangkannya.

Menurut hemat penulis belum ada kata terlambat untuk membenahi kondisi kota kita hari ini guna mengantisipasi kondisi yang akan terjadi dimasa akan datang. Seperti pepatah “apa yang terjadi hari ini merupakan buah dari perbuatan pendahulu kita dimasa lampau, dan apa yang akan terjadi esok hari ditentukan oleh perbuatan kita hari ini”
Penyebaran bentuk-bentuk aktivitas didalam kota seperti dua  pusat pemerintahan yang berada di satu tempat yaitu pusat pemerintahan Kota dan Propinsi seharusnya sudah mutlak dilakukan mengingat terdapatnya jenis aktivitas pedagangan dan jasa yang letaknya sangat berdekatan dengan pusat pemerintahan. Hal ini bertujuan guna memecah konsentrasi arah dan tujuan perjalanan masyarakat baik yang berasal dari dalam dan luar kota yang kondisinya saat ini terkesan memusat dan terpaku didalam kota saja.
Pembenahan dari sektor transportasi hendaknya juga turut dibenahi dengan moto transportasi kita yaitu, memberikan kesan yang aman,nyaman, mudah, ekonomis, lancar, ramah lingkungan. Sehingga memberikan kesan positif bagi masyarakat agar mau beralih menggunakan moda transportasi umum.
Dengan demikan semoga apa yang yang pemerintah harapkan seperti Kota Pekanbaru yang digadang-gadang akan terwujud sebagai Kota Pekanbaru yang metropolis dan madani bakal terwujud dengan memberikan rasa aman, nyaman bagi warga kota dengan cara memanusiawikan
 Warga kotanya, seperti konsep kota yang humanopolis yaitu kota yang memanusiawikan warga kotanya.

Sabtu, 23 Juni 2012

“Iklan yang Lari dari Kewajiban Pajak..!! ”


Fenomena strategi peng-iklanan yang berkembang di Kota Pekanbaru belakangan ini semakin hari semakin ngeyel dan seakan kian merasahkan wajah kota kita.

Seperti seorang bocah yang dilarang, justru semakin ngeyel dan semakin berfikir mencari cara untuk tetap bisa memenuhi kemauannya.

Seperti itu lah potret pola dan perilaku para pemilik iklan yang kian hari kian ngeyel alias mbandel. Entah apa yang ada difikiran mereka saat memilih memasang iklan dengan cara yang demikian. 

Mungkin semua orang akan memiliki persepsi yang sama saat melihat iklan tersebut, salah satunya saya sendiri yang menyangka, 
“ini jelas pemilik iklan mungkin enggan mengeluarkan biaya banyak berupa pajak iklan yang terhitung besar jika mengikuti prosedur resmi pengiklanan yang seharusnya”

Pola dan strategi peng-iklanan yang mereka lakukan ini, demi menghindari biaya pajak yang terhitung besar pada proses pengiklanan yang idealnya.
Jika diperhatikan lebih dekat, pola dan strategi yang mereka lakukan secara rasional untuk saat ini memang tidak ada memuat unsur pelanggaran pajak. Terutama pajak peng-iklanan. Karena sampai saat ini belum ada aturan jelas yang mengatur secara detil tentang keberadaan iklan dengan model yang demikian.
Yaitu pemilik iklan hanya cukup mengajak kerjasama pemilik bangunan agar mau tembok bangunannya di cat dan digambar dengan iklan-iklan tertentu, pastinya dengan deal-deal tertentu juga bukan??!! Heehehee..

Jika diperhatikan lebih jauh lagi, ada banyak keuntungan yang kedua belah pihak terima jika mau melakukan kerjasama. Disamping si pemilik bangunan yang bersedia tembok bangunannya dicat dan terkesan indah nantinya. Mereka pun berfikir “Jadilah dari pada kusam dan usang sama sekali lebih baik dijadikan ladang multimanfaat, seperti keuntungan dari segi penghasilan dan tembok bangunan nya menjadi indah” ungkap mereka.
Selalu ada cara untuk lari dari peraturan, mungkin itu pepatah yang sering kita dengar. Dan ini adalah salah satunya.
Menurut hemat penulis, disini peran fungsi stakeholder dalam meramu kebijakan harus terus update, alias terus diperbaharui mengikuti perkembangan serta kondisi saat ini.
Jika dikaji secara makro dan mikro, dari sisi aspek kerugian yang dialami pemerintah dalam hal perolehan pendapatan pajak iklan terhitung lumayan besar juga.
Bagaimana tidak, jika kita bandingkan dengan bill board resmi, untuk sebuah bill board atau papan iklan saja yang berukuran raksasa yang biasa kita lihat dipersimpangan jalan yang saat ini  terpampang tokoh-tokoh Balon Gubri Riau saat ini saja. Biaya pemasangannya saja udah nyampai berjuta-juta, dengan kurun waktu lama pemasangan yang ditentukan pula oleh pemilik papan iklan.
Dalam hal ini pihak kedua atau pihak pengelola bill board tersebut.
Lantas bagaimana dengan iklan yang nyeleweng alias keluar dari ketentuan peraturan pengiklanan??
Dari segi biaya tentunya terhitung tidak terlalu besar, sekalipun besar hanya diawal saja pastinya. Namun dari segi jangka waktu pemasangan iklan, keliyatannya dalam hal ini pemilik iklan bisa dikatakan di untungkan. Karena tidak ada regulasi atau aturan yang mengatur tentang lamanya iklan tersebut terpasang. Karena sifatnya permanen, dan hanya akan rusak jika cat-nya terkelupas.
Selain itu, disisi lain jika dipandang dari kacamata wajah kota. Hal ini tentunya dinilai sangat merusak citra dan estetika keindahan wajah suatu Kota dan merusak makna dari unsur fungsi dari bangunan itu sendiri. 

Sampai-sampai timbul kecemasan, jangan heran jika kedepan setiap bangunan di kota kita akan berwarna-warni. Bergambarkan iklan-iklan suatu produk.
Jika sudah demikian siapa lagi yang paling berperan dalam mencegahnya? 
Lantas bagaimana pula kah solusinya? Tentunya peran dan kebijakan dalam hal regulasi setingkat PERDA dan PERWAKO seharusnya bisa menjadi tameng ampuh dalam hal menangkis serangan iklan cerdik tersebut. 

Disinilah peran vital kebijakan dalam mengatur hal tersebut, memang sudah seharusnya kebijakan pemerintah selalu hadir dan turut serta menyesuaikan dengan kondisi dan perkembangan dinamika saat ini, seperti halnya peraturan-peraturan lain-nya yang baru muncul. Peraturan tersebut hadir bukan kah karena adanya tuntutan permintaan? Seperti teori suplay and demand. Harusnya pemerintah jauh lebih cerdik dong, guna mengantisipasinya.

Begitu juga dengan permasalahan iklan ini, bukankah ini termasuk dalam hal  masalah iklan cerdik. Jika hal ini sudah bisa diatasi dengan kebijakan setingkat PERDA dan PERWAKO saja, tentunya banyak hal positif yang bisa kita peroleh. Selain kota kita indah dan tidak compang-camping alias morat-marit seperti baju badut. Karena terkesan berwarna-warni bangunan-bangunan yang ada didalam kota kita. Dari segi benefit (keuntungan) dalam rangka peningkatan Kas PAD Kota bisa juga bisa kita harapkan.
Jika kita sedikit saja melirik  ke negara tetangga seperti singapura, hal seperti ini tentunya sudah tidak ada lagi. Karena kebijakan serta regulasi yang mengatur hal-hal demikian sudah mereka jalankan jauh-jauh hari.

Jadi, tidak heran kota mereka terasa indah. Tidak hanya saja dari segi estetikanya saja, namun dari segi estetika kantong PAD Kotanya pun terasa nyaman.  (J1)